Halaman

Rabu, 18 Juli 2012

My Zeiss, My Bosscha


Pagi itu cuaca cerah, segerombolan anak kelas 4 SD dengan ransel berisi makanan mengantri untuk masuk kedalam bis. Mereka hendak piknik hari itu.

Salah satu tempat yang dikunjungi adalah Bosscha, obeservatorium tua, milik Indonesia satu-satunya.

Anak-anak berbaris dipimpin oleh gurunya yang berada paling depan, beriringan masuk kedalam ruang multimedia. Didalam sana gelap, tampak maket tata surya yang sudah usang dengan kawat penyangga yang aga bengkok, disimpan di bagian belakang ruangan. Di dindingnya, dipajang patung K.A.R. Bosscha, orang yang berkontibusi besar dalam proses berdirinya Bosscha.

Anak-anak duduk pada kursi yang berderet membentuk shaf dengan lorong ditengahnya, mereka disuguhi film pendek mengenai Bosscha dan alam semesta. Semuanya memperhatikan dengan takjub, tak terkecuali seorang anak yang duduk dalam barisan yang paling dekat dengan patung K.A.R Bosscha.

Setelah film selesai, ia dan teman-teman yang lain dibawa menuju  bagunan putih berkubah, bergaya Belanda. Di sepanjang lorong menuju ruang tengah dipajang beberapa foto galaksi dan nebula. Ya, nebula, sekumpulan partikel luar angkasa yang muncul akibat adanya ledakan bintang, setidaknya itulah yang ia baca di ensiklopedia kesayangannya.

Disanalah Zeiss, teropong tua itu berada, begitu besar, putih dan...tua.

Anak itu berdiri paling dekat dengan lantai bundar di bawah teropong, yang diberi pagar pembatas untuk pengunjung. Dia tidak begitu memperhatikan penjelasan pemandu mengenai sejarah Zeiss. Teropong itu begitu besar baginya, dan memiliki daya tarik tersendiri sehingga ia memperhatikannya lekat-lekat. Tampak beberapa kabel menjuntai pada bagian bawah teropong, selain itu terdapat beberapa alat seperti jam dengan jarum-jarum penunjuk, bentuknya sangat klasik, seperti jam yang biasa dilihatnya di stasiun, tombol-tombol, lensa-lensa untuk pengamatan, tuas untuk mengatur posisi teropong, dan sebuah kursi pengamatan yang tampak nyaman digunakan untuk tidur.

Ia tambah takjub ketika lantai bundar itu ternyata bisa dinaikkan keatas, dan terpana melihat kubah yang beratnya ber ton-ton itu ternyata bisa berputar. Anak itu memperhatikan roda gigi yang berputar dan rantai yang berderak seiring dengan berputarnya kubah, menggantung pada salah satu bagian dinding silinder ruangan. Seberkas cahaya matahari masuk, menerangi ruangan yang gelap ketika katup kecil pada kubah terbuka.

Pemandu kembali menjelaskan kepada pengunjung, mengenai cara kerja Zeiss. Kali ini anak itu memperhatikannya dengan seksama. Sebenarnya ia begitu kecewa, ia sangat berharap bisa mencobanya sendiri. Namun sayang, pengunjung tidak boleh menyentuh Zeiss, bahkan sekedar naik ke atas lantainya. Pemandu berkata bahwa Zeiss adalah sarana penelitian, dan sudah sangat tua, akan sulit mencari suku cadangnya jika ada salah satu bagian yang rusak karena suku cadangnya sudah tidak diproduksi lagi.

Penjelasan selesai, kubah ditutup dan rantai diturunkan kembali. Pengunjung beriringan berjalan keluar. Namun anak itu tetap diam di tempat. Bulan lalu ia baru mendapatkan ensiklopedia  mengenai alam semesta, sebuah buku berwarna setebal 24 halaman yang begitu menggoda untuk dibaca dan segera ia habiskan seketika setelah ia beli. Isinya menarik, ada keterangan mengenai sejarah penentuan waktu, Stonehenge, suku Maya dan Inca, penjelasan tentang 11 pelanet, riwayat matahari dan bintang, galaksi.... banyak hal. Namun ada beberapa hal yang belum dimengerti oleh anak itu dan ingin ia tanyakan kepada pemandu yang tampak pintar baginya.

“Pak, saya mau tanya, apakah ada yang lebih besar dari Betelgeuse? Apa saya bisa liat Betelgeuse?”

“Ada, ada beberapa bintang yang lebih besar dari Betelgeuse, salah satunya Antares. Kalau ade mau liat betelgeuse, liat di rasi orion, di bagian yang bentuknya kayak sabuk”. Jawab pemandu ramah sambil merapikan kabel-kabel.

“Pulsar itu apa pak? Alam semesta bisa berkembang sampai sebesar apa?”

“hmm...”

Ada jeda yang membuat ruangan tampak hening, menyadarkan sang anak bahwa ia satu-satunya pengunjung yang tersisa. Sepertinya pemandu itu sedang berusaha mencari penjelasan yang mudah dimengerti oleh anak-anak.

Tiba-tiba wali kelas anak itu datang dan menyuruh sang anak untuk segera keluar, karena perjalanan piknik akan dilanjutkan ke tempat lain. Setelah mengucapkan terimakasih, sang anak menurut saja, ditarik keluar oleh sang guru. Sambil berjalan tergesa-gesa (karena ditarik sang ibu guru), matanya tak lepas dari bangunan berkubah bundar itu. Hari itu, ia menemukan hal yang baru dan menarik baginya. Teropong tua Zeiss.

Ia berharap suatu saat nanti dapat melihat langit dari sana, melihat betelgeuse nya sendiri...:)

Senin itu.. ketika hanya ada aku dan Zeiss :)

ditulis  9 September 2011 jam 23:04 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar