Halaman

Kamis, 04 Oktober 2012

LoveLoveLoveStory



#Prolog #Petunjuk Lakuan#

#Part 1 : Pemuda

Pemuda itu… tampak sederhana. Ketika kau melihatnya, kau akan menemukan apa yang dikenakannya bukan barang mewah tapi tetap bersih dan wangi. Entah bagaimana caranya mandi karena ia memang begitu meskipun tanpa mengenakan parfum. Ia tidak terlalu tinggi dengan rambut tebal, sedikit panjang tapi tidak tampak mengganggu untuk dilihat. 

Selepas waktu kuliah, pemuda itu tak pernah absen mengunjungi masjid. Kalau kau mendengarkan baik-baik, kau akan terpesona dengan suara adzan yang mengalur indah dari mulutnya.

Selain sebagai muadzin, pemuda itu juga menjadi guru mengaji bagi pemuda-pemudi yang tinggal di sekitar tempat kosannya. Mushala kecil itu jadi ramai, dipenuhi para gadis yang tiba-tiba semangat mengaji ketika pemuda itu yang mengajar. Hahaha

Bukan hanya suara azdannya yang merdu, bacaan Al Quran yang dilantunkannya juga begitu indah, menyenangkan untuk didengar. Kau tahu? pemuda itu adalah Qori nomor satu di daerah rantauannya.

Rantauan… ya pemuda itu seorang anak rantau dari pulau sebrang, Pulau Sumatera. Anak dari pemuka agama di desanya. Kau boleh sebut ia seorang mahasiswa teknik elektro plus-plus. Karena selain kuliah, ia harus memikirkan bagaimana caranya bertahan hidup. Berjualan jaket himpunan, kaos-kaos event, reparasi alat elektronik, menyewakan kamar kos, apapun ia lakukan untuk bisa menghasilkan uang.

Rasa ingin tahu yang tinggi dan kemauannya belajar dari tukang sol sepatu, sampai tukang reparasi alat elektronik menjadikannya mahir dalam melakukan banyak hal. Wawasannya luas, kau bisa bertanya apapun padanya.

Tidak seperti pemuda lainnya yang senang begadang sambil bernyanyi dan bermain gitar, pemuda itu selalu memilih untuk tidur lebih awal. Di sepertiga malam, ketika teman-temannya baru akan tidur, kau akan melihat cahaya lampu dari jendela kamarnya di lantai dua. Pemuda itu bangun untuk shalat dan belajar.

Tapi bukan berarti dia kuper, silakan tanya siapapun penghuni gang sempit. Tak ada yang tak mengenal pemuda itu.


#Scene 1 : Hari Wisuda

Sampai tiba hari itu.. hari wisuda… setelah enam tahun lamanya..

Enam tahun, itu waktu yang ia butuhkan untuk mendapatkan gelar “engineer” nya. 
Dengan pakaian rapi, toga dan… seorang wanita manis berjilbab putih disampingnya, hari itu menjadi hari besar baginya.

Hah? Wanita? Siapa?


#Part 2 : Wanita

Wanita itu, ya wanita. Kalau perhatikan, wanita itu sama luar biasanya dengan si pemuda. Ketika kau pergi ke acara-acara di gang sempit, kau pasti akan melihatnya di setiap pembukaan acara, membacakan ayat-ayat suci Al Quran.

Ya, wanita itu juga sama, seorang Qoriah. Jika ada perlombaan, si pemuda adalah juara satu dan wanita ini juara duanya.. hihi. Wanita ini anak masjid, anak karang taruna. Satu dari (sangat) sedikit perempuan muda di gang sempit yang begitu disegani para pemuda karena sulit untuk didekati, menolak untuk  berpacaran.

Sosok mandiri yang mengorbankan keinginannya berkuliah demi keberlangsungan sekolah adik-adiknya. Sama dengan si pemuda, ia juga sosok yang sangat sederhana. Bapaknya adalah seorang PNS lulusan Sekolah Rakyat yang dipercaya karena kejujurannya, Ibunya adalah seorang ibu rumah tangga yang membantu mencari uang dengan berjualan makanan.

Bagi keluarganya yang hidup serba terbatas, yang menganggap bakso adalah makanan mewah, pendidikan adalah infestasi yang harus diperjuangkan. Dalam segala keterbatasan, keluarga kecil itu berusaha mendidik anak-anaknya sebaik mungkin sehingga menjadi keluarga yang disegani karena ilmu dan karakter, bukan karena materi.


#Back to #Scene 1 : Hari Wisuda

Jadi, hari itu kau akan melihat si pemuda dan si wanita, bersama di hari kelulusan si pemuda.

Keduanya bahagia, kau bisa lihat dari sinar mata dan bahasa tubuh mereka.

Di jari manis si pemuda dan si wanita melingkar cincin emas
Yang terpasang empat hari yang lalu..
menyatukan mereka untuk selamanya..

Selamanya..
Aamiin :’)

Pemuda dan Wanita, kini, selamanya :'D
Barakallah Ayah Bunda <3



Tidak ada komentar:

Posting Komentar