Halaman

Senin, 24 Maret 2014

Haruskah Menunggu Mapan untuk Menikah?

"Anak Muda...
Menikahlah Sebelum Mapan, Agar Anak anak anda dibesarkan bersama kesulitan - kesulitan anda.
Agar Anak anak anda kenyang merasakan betapa ajaibnya kekuasaan Allah
Jangan sampai anda meninggalkan anak anak yang takpaham bahwa hidup adalah perjuangan".


-Adriano Rusfi-




Ayah dan Bunda termasuk pasangan yang menikah dengan bekal secukupnya. Dengan uang yang mulanya akan digunakan untuk acara pernikahan, tapi tidak jadi karena ternyata di akad nikah sudah banyak sekali tamu yang hadir, Ayah dan Bunda membeli sebuah rumah dengan harga Rp 3.000.000 (kalau sekarang nilai uangnya mungkin sekitar Rp 30.000.000). Rumah pertama keluarga kami yang sederhana, letaknya di Gang Dahlia No.57, belakang RS. Dustira Cimahi.

Benda yang pertama kali Ayah dan Bunda beli adalah sebuah karpet merah tipis dan sebuah kasur busa yang mereka gunakan berdua, karena memang baru itu yang bisa mereka beli. Saat itu penghasilan Bunda sebagai seorang karyawan kantor di sebuah pabrik tekstil masih lebih tinggi dibanding Ayah yang calon dosen. Bundaku memang sudah lama bekerja sejak lulus SMK karena harus membantu Mbah dan Nenek membiayai kuliah adik-adiknya. 

Untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, selain mengajar Ayah membuka toko alat elektronik di Pasar Cimindi. Ayahku memang seorang pekerja keras, beliau tak terbiasa duduk-duduk santai di waktu luangnya. Kemampuan Ayah berdagang didapatnya sejak masih kecil dengan berjualan es lilin dan membantu Nenek berjualan ikan di pasar.

Dengan kondisi seperti itu, dari pagi hingga sore mereka berdua tak pernah ada di rumah, hingga aku terpaksa dititipkan di rumah Nenek (dari Bunda). Biasanya setiapkali Bunda berangkat di pagi hari aku menangis dan mengejarnya menyusuri gang sampai jalan raya, aku baru berhenti menangis kalau Nenek atau Bule yang menyusulku dari belakang menasehatiku bahwa Bunda dan Ayah melakukan semuanya untuk bisa membelikanku susu :) . Mungkin karena orangtuaku sibuk, di usia 3 tahun aku sudah dimasukkan ke TK.

Di tahun 1997, saat usiaku 4 tahun, Ayah dan Bunda mulai merintis usaha baru berupa toko bahan bangunan. Saat itu bangunan toko masih kecil, sangat sederhana dan semipermanen, sebagian dibuat dari papan dan triplek. Barang yang dijualpun belum begitu banyak jumlahnya.

Krisis ekonomi yang terjadi pada 1998 justru menjadi titik balik finansial keluargaku. Krisis ekonomi saat itu mungkin menjatuhkan bagi mereka yang memiliki aset berbentuk saham, reksa dana, obiligasi dan aset liquid lainnya, tapi menguntungkan bagi mereka yang mempunyai real asset dalam bentuk barang dan tidak memiliki hutang, seperti Ayah dan Bunda. Keuntungan yang didapatkan dari berjualan cukup untuk membangun toko sekaligus rumah baru bagi keluarga kami. Semenjak itu usaha Ayah terus berkembang hingga kini. 

Setiap keluarga punya “kisah finansial”nya masing-masing, ada yang memang sudah mapan dari sebelum perjanjian agung diucapkan, entah karena faktor kerja keras calon mempelai pria atau warisan turun-menurun, ada pula yang berbekal secukupnya lalu merintis bersama-sama dan mapan bersama-sama. 

Kalau aku, aku memimpikan yang kedua.

Karena ada sarana pembelajaran yang luarbiasa di sana, sarana untuk saling mengenal karakter satu sama lain, sarana untuk saling membangun satu sama lain dan sarana untuk berjuang bersama-sama. Aku percaya keberuntungan dan keajaiban Allah akan lebih dekat pada mereka yang mau berjuang dan bekerja keras termasuk dalam menjalani hidup.

Mungkin mudah mendapatkan orang yang mau di ajak senang tapi tak mudah mendapatkan orang yang bisa di ajak susah. Padahal kata Ayah, kehidupan itu tak selalu di atas, kita tak pernah tahu kapan Allah akan mengambil kembali apa yang pernah Ia titipkan. Alangkah indahnya ketika kita punya pasangan yang siap akan hal itu bukan? :)

Bagaimana denganmu? :)

menikmati hasil perjuangan bersama, matahari terbenam di Laut Merah :")

1 komentar:

  1. Salah satu yang dari dulu sampe sekarang belum kesampaian adalah main ke rumah nisa, ketemu ayah sama bunda nisa, dan belajar dari keluarga nisa :"))

    BalasHapus