Halaman

Minggu, 23 Desember 2012

Kontemplasi


Ketika dalam kesendirianmu, lembaran hidupmu kau telusuri kembali dari depan kebelakang
Lalu kau menyadari ada sebagian halaman yang kurang
Sayangnya halaman-halaman tersebut telah terjilid kokoh dalam buku hidupmu
Tak bisa kau cabut, apalagi kau tambahkan di sela-selanya
Ada penyesalan disana
Lalu kau menangis
Sampai kau menyadari bahwa
Tangisanmu sia-sia
Tetap saja halaman-halaman tersebut telah terjilid kokoh dalam buku hidupmu
Tak bisa kau cabut, apalagi kau tambahkan disela-selanya

Maka kau putuskan untuk melanjutkan bab baru sebaik mungkin
Agar tak ada halaman yang kurang
Agar tak ada penyesalan kelak
Ketika dalam kesendirianmu nanti, lembaran hidupmu kau telusuri kembali dari depan kebelakang…


Kira-kira begitu, hasil kontemplasi semester enam. Ketika Allah kembali “memperkenalkan” padaku, kawan-kawanku yang terpisah begitu lama, terpisah dengan jarak, dengan benua, dengan lautan. Melalui tulisan-tulisan mereka,kabar dari mereka atau sekedar status-status yang mereka pajang di wall facebook mereka… Begitu menggelitik menyadarkan dengan halus ada bagian dariku yang hilang.

Isinya penuh dengan cinta, ada kebahagiaan disana, ada harapan disana, ada keyakinan disana.

Lalu aku mereview kembali, berusaha mengumpulkan makna dari keberadaanku di tempat ini, makna dari apa yang aku kerjakan sekarang, makna dari tujuan-tujuan hidup yang kugambar manis di kertas-kertas berwarna-warni. Mulain dari semerster satu, dua, tiga, empat, lima, enam…

Sempurna!

Pantas saja semua kegalauan itu sempurna menguasai hati dan pemikiran. Ada bagian yang kurang.. Sebagian besar yang kugambarkan sebagai tujuan hidupku selama itu isinya dunia semua. Mulai dari IPK,  target ke luar negeri, jalan-jalan ke sana lah, ke sini lah..

Mungkin itu kenapa waktu itu kuputuskan untuk lari sejenak dari rutinitas. Lari ke Bosscha, tempat yang kusukai, tempat yang mengingatkanku pada kalian.
Sayang sekali Bosscha hanyalah sebuah tempat...
Yang kurindukan bukan tempat, tapi jiwa.
 Jiwa-jiwa kalian, yang tulus dan mengenalkanku arti ketulusan.
Yang memandang aku apa adanya
Yang mampu mengajarkanku hanya dengan sikap
Yang saling mengingatkan ketika salah

Maka kuputuskan untuk berhusnudzon. Allah membawa kalian ke sana, ke sana dan ke sana agar kalian dapat memahamiNya dengan lebih baik. Dan aku tetap berada di sini mempelajari sains, juga agar dapat memahamiNya dengan lebih baik..

Meskipun keadaan kita berbeda, meskipun apa yang kita pelajari berbeda, aku hanya perlu percaya skenarioNya begitu indah. Hingga suatu hari nanti kita semua dipertemukan kembali, yang tersisa hanyalah bentuk dari kebahagiaan.

Di akhir semester itu, ketika aku memutuskan untuk mempercepat studiku, ketika itu pula ada kuncup yang berusaha memekarkan diri dalam jiwa..
Aku akan berjuang, meskipun telah lama terjebak dalam lumpur hitam


Tidak ada komentar:

Posting Komentar